Download Ekstraksi Maserasi Daun Mengkudu PDF

TitleEkstraksi Maserasi Daun Mengkudu
File Size308.2 KB
Total Pages10
Document Text Contents
Page 1

http://disehat.com/manfaat-beras-kencur-untuk-kesehatan/
http://disehat.com/manfaat-makan-coklat-bagi-kesehatan-untuk-kecantikan/

Page 2

C. Tujuan Percobaan

Tujuan percobaan ini yaitu sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui cara mengisolasi senyawa bahan alam dari daun mengkudu (Morinda

citrifolia L.).

2. Untuk mengetahui bobot ekstrak kental daun mengkudu (Morinda citrifolia L.) melalui

proses ekstraksi maserasi.




BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


A. Mengkudu (Morinda citrifolia L.)

Mengkudu termasuk tumbuhan keluarga kopi-kopian yang pada mulanya berasal dari

wilayah daratan Asia Tenggara dan kemudian menyebar sampai ke Cina, India, Filipina,

Hawaii, Tahiti, Afrika, Australia, Karibia, Haiti, Fiji, Florida dan Kuba (Aryadi, 2014: 5).


Menurut Aryadi (2014: 7), bahwa taksonomi dari buah mengkudu yaitu:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledone

Anak kelas : Sympetalae

Bangsa : Rubiales

Suku : Rubiaceae

Genus : Morinda

Spesies : Morinda citrifolia

Daun tersusun berhadapan dan bertangkai pendek. Daunnya tebal, lebar dan

mengkilap. Bentuk daun lonjong menyempit kearah pangkal. Daun mengkudumerupakan

daun tunggal berwarna hijau kekuningan, bersilang hadapan, ujung meruncing dan bertepi

rata dengan ukuran panjang 10-40 cm dan lebar 15-17cm. Bunga mengkudu berwarna putih,

berbau harum dan mempunyai mahkota berbentuk terompet (Aryadi, 2014: 8).

Zat aktif utama dalam daun mengkudu meliputi: terpenoid, antibakteri, ascorbic acid,

beta karoten, I-arginine, xeronine dan proxeronine. Selain itu, mengkudu juga mengandung

Page 3

antraquinon dan scolopetin yang aktif sebagai antimikroba, terutama bakteri dan jamur yang

penting dalam mengatasi peradangan dan alergi (Aryadi, 2014: 9).

Daun tanaman mengkudu mengandung zat kapur, protein, zat besi, karoten, arginin,

asam glutamat, tirosin, asam askorbat, asam ursolat, thiamin, dan antraquinon. Kandungan

flavonoid total dalam daun mengkudu adalah 254mg/100

gram fw. Angka ini termasuk tertinggi dibandingkan 90 tanaman. Daun mengkudu juga

mengandung spektrum luas antrakuinon seperti iridoid, glikosida flavonol dan triterpen.

Senyawa ini berfungsi sebagai antibakteri seperti: Staphylococcus aureus yang menyebabkan

peradangan dan infeksi, Shigela yang menyebabkan disentri, Pseudomonasaeruginosa,

Proteus morgaii, Baciillis subtilis, Salmonella dan Escherichia coli (Aryadi, 2014: 9-10).


B. Senyawa Metabolit Sekunder

Metabolit sekunder adalah molekul organik yang tidak secara langsung dalam

pertumbuhan dan perkembangan normal dari suatu organisme. Metabolit sekunder dapat

ditandai oleh keragaman kimia yang sangat besar, dimana setiap organisme memiliki

karakteristik tersendiri dalam setiap kandungan metabolit sekundernya. Selama bertahun-

tahun, metabolit sekunder terbatas, tetapi sekarang secara umum diterima bahwa metabolisme

sekunder terlibat dalam hubungan organisme dengan lingkungannya, misalnya dalam

pertahanan terhadap hama dan penyakit, sebagai pengontrol penyerbuk, atau sebagai senyawa

sinyal (Ilyas, 2013: 5).

1. Fenolik

Fenolik yang paling banyak di alam yaitu flavonoid. Metabolit sekunder yang seperti

flavonoid yang memberikan konstribusi keindahan warna dan kesemarakan pada bunga dan

buah-buahan di alam. Flavon memberikan warna kuning dan jingga, antosianin memberikan

warna merah, biru atau ungu yaitu semua warna yang terdapat pada pelangi kecuali warna

hijau. Secara bilogis, flavonoid memainkan peranan penting dalam kaitan penyerbukan pada

tanaman oleh serangga. Sejumlah flavonoid mempunyai rasa pahit hingga dapat bersifat

menolak sejenis ulat tertentu (Sastrohamidjojo, 1996: 140).

2. Alkaloid

Sumber alkaloid adalah tanaman berbunga, angiosperma. Sejumlah besar juga dapat

ditemukan pada hewan, serangga, organisme laut, mikroorganisme dan tanaman rendah.

Page 5

kemudian dikenal dengan minyak “essential” atau disebut juga minyak atsiri. Banyak minyak

atsiri yang digunakan untuk berbagai keperluan seperti sebagai pengharum makanan, farfum,

obat-obatan dan sebagainya. Meskipun banyak minyak atsiri merupakan senyawa terpenoid

namun demikian pengertian tersebut tidak berlaku umum karena terdapat senyawa

nonterpenoid filiage dan bunga juga volatil dan berbau harum (Sastrohamidjojo, 1996: 78).

Kebanyakan senyawa terpenoid terdapat bebas dalam jaringan tanaman, tidak terikat

dengan senyawa-senyawa lain, tetapi banyak diantara mereka yang terdapat sebagai

glikosida, ester dari asam organik dan dalam beberapa hal terikat dengan protein. Anggota

yang rendah (senyawa C10 dan C15) sering dapat diperoleh dengan cara distilasi uap dengan

tanaman yang segar atau kering sedangkan anggota yang lebih tinggi (C20 atau lebih)

biasanya diisolasi dengan cara ekstraksi dengan pelarut kemudian dipisahkan dan dimurnikan

dengan cara kristalisasi, destilasi dan kromatografi (Sastrohamidjojo, 1996: 79).


C. Ekstraksi

Ekstraksi ialah penarikan suatu zat terlarut dari pelarutnya di dalam air oleh suatu

pelarut lain yang tidak dapat tercampur dengan air. Tujuan ekstraksi adalah memisahkan

suatu komponen dan campurannya dengan mengunakan pelarut (Alimin, 2007: 51).

Ekstraksi digunakan untuk memisahkan senyawa yang mempunyai kelarutan berbeda-

beda dalam berbagai pelarut. Sering kali senyawa yang hendak diekstraksi diubah secara

kimia terlebih dahulu agar larut dalam air atau pelarut organik. Sebagai contoh pada ekstraksi

cai-cair sering digunakan dua zat cair yang tidak saling malerutkan, sebagai larutan dalam air

dan pelarut organik (kloroform dan etil asetat) untuk melakukan ekstraksi. Corong pisah serta

krannya sangat berguna untuk memisahkan dua zat cair yang tidak saling melarutkan tersebut

(Bresnick, 2003: 95).


D. Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan

beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Maserasi

digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif dalam jumlah banyak, zat

aktif yang mudah larut dalam cairan penyari. Remaserasi berarti dilakukan pengulangan

Page 6

penambahan pelarut setelah dilakukan penyarian maserat pertama dan seterusnya.

Keuntungan cairan penyari dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang

digunakan sederhana dan mudah diusahakan, sedangkan kerugiannya adalah pengerjaannya

lama dan penyariannya kurang sempurna (Anggraini, 2010: 8-9).

Tumbuhan dapat dikeringkan sebelum diekstraksi. Bila ini dilakukan, pengeringan

dalam keadaan terawasi untuk mencegah terjadinya perubahan kimia yang terlalu banyak.

Bahan harus dikeringkan secepat-cepatnya tanpa menggunakan suhu tinggi, lebih baik

dengan aliran udara yang baik. Setelah betul-betul kering, tumbuhan dapat disimpan untuk

jangka waktu lama sebelum digunakan untuk analisis. Tumbuhan yang biasa digunakan yaitu

tidak berpenyakit seperti tidak dijangkit infeksi virus, bakteria atau jamur. Bukan hasil

sintesis mikroba yang mungkin terdeteksi, tetapi infeksi pun mungkin mengubah

metabolisme tumbuhan secara serius dan membentuk hasil yang tidak diharapkan, bahkan

mungkin dalam jumlah yang besar (Harborne, 1987: 4-5).



E. Vaccuum Rotary Evaporator


Vaccuum Rotary Evaporator adalah alat yang berfungsi untuk memisahkan suatu

larutan dari pelarutnya sehingga dihasilkan ekstrak dengan kandungan kimia tertentu sesuai

yang diinginkan. Uap cairan yang dihasilkan didinginkan oleh suatu pendingin (kondensor)

dan ditampung pada suatu tempat (receiver flask). Kecepatan alat ini dalam melakukan

evaporasi sangat cepat, terutama bila dibantu oleh vakum. Terjadinya bumping dan

pembentukan busa juga dapat dihindari. Kelebihan lainnya dari alat ini adalah diperolehnya

kembali pelarut yang diuapkan. Prinsip kerja alat ini didasarkan pada titik didih pelarut dan

adanya tekanan yang menyebabkan uap dari pelarut terkumpul di atas, serta adanya

kondensor (suhu dingin) yang menyebabkan uap ini mengembun dan akhirnya jatuh ke

tabung penerima (receiver flask).Setelah pelarutnya diuapkan, akan dihasilkan ekstrak yang

dapat berbentuk padatan (solid) atau cairan (liquid). Biasanya ekstrak yang dihasilkan dari

ekstraksi awal ini (ekstraksi dari bahan tumbuhan) disebut sebagai ekstrak kasar (crude

extract) (Senjaya, 2010: 4).


F. Pelarut Organik

Page 7

N-heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus kimia C6H14.

Awalan heks- merujuk pada enam karbon atom yang terdapat pada heksana dan akhiran -

anaberasal dari alkana, yang merujuk pada ikatan tunggal yang menghubungkan atom-atom

karbon tersebut. Senyawa dalam keadaan standar merupakan cairan tak berwarna yang tidak

larut dalam air (Munawaroh, 2010: 75).

Menurut Munawaroh (2010: 75), bahwa sifat fisika dan kimia n-heksan dapat dilihat

pada tabel berikut ini:


Tabel 2. 1. Sifat Fisika dan Kimia n-Heksan


Karakterisasi Syarat

Bobot molekul

Warna

Wujud

Titik lebur

Titik didih

Densitas

86,2 gram/mol

Tak berwarna

Cair

-95 oC

69 oC

0,6603 g/mL pada 20 oC









BAB III

METODOLOGI PENELITIAN




A. Waktu dan Tempat

Waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini, yaitu sebagai berikut :

Hari/Tanggal : Rabu-Senin/ 20-25 Mei 2015

Pukul : 08.00 WITA–Selesai

Tempat : Laboratorium Kimia Organik, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin

Makassar.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Page 8

Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu Vaccuum Rotary

Evaporator Heidolph, neraca analitik, toples, corong plastik, botol bening, batang pengaduk

dan labu semprot.

2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu aquades (H2O), n-heksan (C6H14),

daun mengkudu (Morinda citrifolia L.), kain belacu dan tissu.


C. Prosedur Kerja

Percobaan ini dilakukan dengan memotong kecil-kecil daun mengkudu (Morinda

citrifolia L.) kemudian mengeringkannya pada suhu kamar. Menimbang sampel sebanyak

100,0 gram dan melarutkannya dalam pelarut n-heksan (C6H14) menggunakan wadah toples

selama 1x24 jam. Ekstrak yang diperoleh diuapkan dengan evaporator hingga diperoleh

ekstrak kental kemudian ditimbang bobotnya.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan

Bobot sampel daun mengkudu : 100,0 gram

Bobot wadah kosong : 181,6749 gram

Bobot wadah kosong + ekstrak kental : 192,8509gram

Bobot ekstrak kental : 11,176 gram




C. Pembahasan

Maserasi merupakan metode yang dapat dilakukan untuk mendapatkan ekstrak dari

bahan alam. Percobaan ini menggunakan metode maserasi yang berfungsi untuk mengambil

ekstrak yang mengandung metabolit sekunder di dalamnya daun mengkudu (Morinda

http://2.bp.blogspot.com/-Q5mB879abhE/VZkz3UwCfCI/AAAAAAAAAQs/1IeklMuMXgs/s1600/K.png

Page 9

citrifoliaL.) sebagai bahan alam yang akan diambil ekstraknya. Proses pengeringan

menyebabkan air dalam sel menguap dan terjadi pengerutan sel sehingga terjadi pori-pori

pada sel yang mengkerut diisi oleh udara. Pengeringan sampel dilakukan dalam suhu ruang

bertujuan agar komponen-komponen dari daun mengkudu tidak terdenaturasi atau rusak

akibat sinar matahari secara langsung. Apabila daun mengkudu (Morinda

citrifolia L.) dibasahi dengan cairan penyari maka cairan penyari akan masuk ke

dalam (Morinda citrifolia L.) dan sel yang mengkerut akan mengembang. Cairan penyari

yang telah masuk ke dalam sel akan kontak dengan zat aktif dan akan melarutkan zat aktif

yang terdapat pada daun mengkudu (Morinda citrifolia L.). Konsentrasi zat aktif di dalam sel

yang tinggi akan semakin berkurang karena cairan penyari pembawa zat aktif ke luar sel.

Perbedaan konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar sel akan menimbulkan terjadinya

peristiwa difusi. Pelarut n-heksan digunakan sebagai pelarut yang berfungsi untuk

mengisolasi komponen kimia bahan alam. Hal ini dilakukan selama 1x24 jam. Perendaman

ini bertujuan agar senyawa metabolit sekunder dapat larut secara maksimal dalam etanol.

Ekstrak cair yang terbentuk disaring pada botol sebagai ekstrak yang akan diuapkan

pelarutnya untuk memperoleh ekstrak kental menggunakan alat evaporator. Proses evaporasi

ini akan terjadi penukaran panas dan memisahkan uap yang terbentuk dari cairan. evaporasi

ini dilakukan hingga didapatkan ekstrak kental. Ekstrak kental yang diperoleh yaitu

sebesar 11,176 % dalam 100 gram daun mengkudu (Morinda citrifolia L.).



BAB V

PENUTUP


A. Kesimpulan

Kesimpulan dalam percobaan ini yaitu sebagai berikut:

1. Isolasi senyawa bahan alam dari daun mengkudu (Morinda citrifolia L.) dilakukan

menggunakan metode ekstraksi maserasi atau perendaman sampel dengan pelarut tertentu.

2. Bobot ekstrak kental daun mengkudu (Morinda citrifolia L.) melalui proses ekstraksi

maserasi diperoleh 11,176 %.

Similer Documents