Download Tiga Esai Abdul Hadi WM tentang Tasawuf PDF

TitleTiga Esai Abdul Hadi WM tentang Tasawuf
File Size584.6 KB
Total Pages79
Document Text Contents
Page 1

PESAN PROFETIK MATSNAWI KARYA AGUNG

JALALUDDIN RUMI


Abdul Hadi W. M.







Matsnawi-i-Ma`nawi, judul lengkap buku ini yang berarti karangan bersajak

tentang makna-makna yaitu makna-makna terdalam ajaran agama, merupakan

salah satu dari karya agung dunia yang ditulis pada abad ke-13 dalam bahasa Persia,

bahasa Dunia Islam ke-2 setelah bahasa Arab. Pengarangnya Jalaluddin Rumi

adalah seorang sufi besar sepanjang zaman, yang telah membaktikan lebih dari

separuh hidupnya untuk mencari kebenaran-kebenaran terdalam dari ajaran agama,

kekuatan dari kebenaran tersebut sebagai pendorong dan pembimbing umat

manusia dalam membentuk kebudayaan dan peradaban besar yang langgeng.

Pencarian yang panjang itu telah membawa sang sufi ke dalam penjelajahan dan

pengembaraan ruhani yang berliku-liku dan penuh rintangan, namun buahnya

adalah pengalaman dan kebahagiaan ruhaniah yang lezat dan tidak ternilai

harganya. Semua itu memperkuat keyakinan sang sufi bahwa, seperti dikatakan al-

Quran (50:6), Tuhan lebih dekat (pada manusia) dibanding urat lehermu sendiri dan

Dia selalu bersamamu (wa huwa ma`akum ayna-ma kuntum QS 57:4) ). Lagi, Ke

mana pun kau memandang akan tampak wajah Allah (QS 2:115).

Kandungan ayat suci ini tidak dapat ditafsirkan sebagai ungkapan pantheistik,

sebab yang dimaksud sebagai wajah Allah ialah wajah rohani atau rupa batin Tuhan

yang hanya dapat disaksikan dalam pikiran dan perenungan yang dalam, yaitu sifat

Pengasih dan Penyayang-Nya (al-rahmân dan al-rahîm), yang terdapat kalimah

Basmallah dan ayat kedua Surat al-Fatihah. Para sufi menyebut sifat-sifat ilahiyah

ini baik sebagai mahabbah maupun `isyq. Keduanya sama-sama berarti cinta,

namun `isyq adalah cinta yang berlipat ganda dan sangat kuat hingga menimbulkan

dorongan kreatif untuk menjelmakan sesuatu sebagai bukti kecintaannya yang

mendalam. Inilah tema penting dan pokok karya para pengarang sufi dalam bahasa

apa pun dia menulis, Arab, Persia, Turki, Urdu, Shindi atau pun Melayu.

Page 2

Al-Rahmân adalah cinta Allah yang dilimpahkan bagi segenap makhluk-Nya

tanpa pilih bulu, sedangkan al-Rahîm adalah cinta yang diberuntukkan bagi orang

yang bertaqwa, beriman dan beramal saleh. Dari kata-kata ―al-rahim” inilah kata-

kata ―rahim‖ dalam bahasa Melayu/Indonesia berasal. Cinta Tuhan kepada orang

mukmin yang taqwa dan beramal saleh merupakan cinta yang istimewa dan wajib

diberikan sebagaimana cinta seorang ibu kepada anak kandungnya. Cinta sebagai

sifat Tuhan dan sekaligus wujud batinnya itu dipandang oleh para sufi sebagai asas

kejadian atau penciptaan alam semesta, sebab tanpa al-rahman dan al-rahim-Nya

tidak mungkin alam dunia yang begitu menakjubkan dan penuh kenikmatan ini

dicipta oleh Yang Maha Kuasa yang sekaligus Maha Pengasih dan Penyayang. Selain

itu cinta juga merupakan asas bagi perkembangan dan pertumbuhan, serta

perluasan dan pertahanan dari keberadaan makhluq-makhluq terutama manusia.

Ahli-ahli tasawuf juga percaya bahwa cinta merupakan asas dan dasar

terpenting dari keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan. Tanpa cinta yang

mendalam, ketaqwaan dan keimanan seseorang akan rapuh. Hilangnya cinta dalam

segala bentuknya dalam diri sebuah umat akan membuat peradaban dan

kebudayaan dari umat tersebut akan rapuh dan mudah runtuh.

Di lain hal dalam mencapai rahasia ketuhanan, jalan cinta melengkapi jalan

ilmu atau pengetahuan. Peradaban dan kebudayaan umat manusia tidak akan

berkembang subur apabila hanya didasarkan pada ilmu beserta metodologi dan

teknologi yang dihasilkan dari ilmu. Cinta menyempurnakan jalan ilmu, sebab cinta

merupakan dorongan terpendam dalam diri manusia untuk selalu mencari yang

sempurna dalam hidupnya. Dorongan menimbulkan kehendak, hasrat dan

kerinduan mendalam, dan dengan demikian cinta menggerakkan manusia berikhtiar

sekuat tenaga dengan segala kemampuan yang ada pada dirinya. Jalan ilmu yang

dilengkapi jalan cinta juga membuat seseorang mampu mencapai makrifat

(ma`rifah) atau kebenaran tertinggi yang merupakan rahasia terdalam dari ajaran

agama.

Ibn `Arabi menuturkan tentang jalan ilmu dan jalan cinta sebagai berikut,

Ada tiga bentuk pengetahuan. Pertama pengetahuan intelektual, yang dalam

kenyataan berisi informasi dan kumpulan fakta-fakta serta teori belaka, dan apabila

pengetahuan ini digunakan untuk mencapai konsep-konsep intelektual melampaui

Page 39

(3) Zaman Pesisir berlangsung pada abad ke-15 -19 M. Pada zaman ini kegiatan

sastra berpindah ke kota-kota pesisir yang merupakan pusat perdagangan dan

penyebaran agama Islam;

(4) Zaman Surakarta dan Yogyakarta berlangsung pada abad ke-18 – 20 M. Pada

akhir abad ke-18 M di Surakarta, terjadi renaisan sastra Jawa Kuno dipelopori oleh

Yasadipura I. Pada masa itu karya-karya Jawa Kuno digubah kembali dalam bahasa

Jawa Baru. Lebih kurang tiga dasawarsa kemudian, karya Pesisir juga mulai banyak

yang disadur atau dicipta ulang dalam bahasa Jawa Baru di keraton Surakarta.



Khazanah Sastra Jawa Timur

Khazanah sastra zaman Hindu dan Islam Pesisir --dua zaman yang relevan

bagi pembicaraan kita — sama melimpahnya. Keduanya telah memainkan peran

penting masing-masing dalam kehidupan dalam masyarakat Jawa dan Madura.

Pengaruhnya juga tersebar luas tidak terbatas di Jawa, Bali dan Madura. Karya-

karya Pesisir ini juga mempengaruhi perkembangan sastra di Banten, Palembang,

Banjarmasin, Pasundan dan Lombok (Pigeaud 1967:4-8).

Di antara karya Jawa Timur yang paling luas wilayah penyebarannya ialah

siklus Cerita Panji. Versi-versinya yang paling awal diperkirakan ditulis menjelang

runtuhnya Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15 M (Purbatjaraka, 1958). Cerita

mengambil latar belakang di lingkungan Kerajaan Daha dan Kediri. Versi roman ini,

dalam bahasa-bahasa Jawa, Sunda, Bali, Madura, Melayu, Siam, Khmer dan lain-

lain, sangat banyak. Dalam sastra Melayu terdapat versi yang ditulis dalam

bentuk syair, yang terkenal di antaranya ialah Syair Ken Tambuhan dan Hikayat

Andaken Penurat.

Tetapi bagaimana pun juga yang dipandang sebagai puncak perkembangan

sastra Jawa Kuno ialah kakawin seperti Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa), Hariwangsa

(Mpu Sedah), Bharatayudha (Mpu Sedah dan Mpu Panuluh), Gatotkacasraya

(Mpu Panuluh), Smaradahana (Mpu Dharmaja), Sumanasantaka (Mpu

Monaguna), Kresnayana (Mpu Triguna), Arjunawijaya (Mpu Tantular), Lubdhaka

(Mpu Tanakung); atau karya-karya yang ditulis lebih kemudian seperti

Negarakertagama (Mpu Prapanca), Kunjarakarna, Pararaton, Kidung

Page 40

Ranggalawe, Kidung Sorandaka, Sastra Parwa (serial kisah-kisah dari

Mahabharata) dan lain-lain (Zoetmulder 1983: 80-478).

Apabila sumber sastra Jawa Kuno terutama sekali ialah sastra Sanskerta,

seperti diperlihatkan oleh puitika dan bahasanya yang dipenuhi kosa kata Sanskerta;

sumber sastra Pesisir ialah sastra Arab, Parsi dan Melayu. Bahasa pun mulai banyak

meminjam kosa kata Arab dan Parsi, terutama yang berhubungan dengan konsep-

konsep keagamaan.

Kegiatan sastra Pesisir bermula di kota-kota pelabuhan Gresik, Tuban,

Sedayu, Surabaya, Demak dan Jepara. Di kota-kota inilah komunitas-komunitas

muslim Jawa yang awal mulai terbentuk. Mereka pada umumnya terdiri dari kelas

menengah yang terdidik, khususnya kaum saudagar kaya. Dari kota-kota ini kegiatan

sastra Pesisir menyebar ke Cirebon dan Banten di Jawa Barat, dan ke Sumenep dan

Bangkalan di Pulau Madura.

Pengaruh sastra Pesisir ternyata tidak hanya terbatas di Pulau Jawa saja.

Disebabkan mobilitas para pedagang dan penyebar agama Islam yang tinggi,

kegiatan tersebut juga menyebar ke luar Jawa seperti Palembang, Lampung,

Banjarmasin dan Lombok. Pada abad ke-18 dan 19 M, dengan pindahnya pusat

kebudayaan Jawa ke kraton Surakarta dan Yogyakarta, kegiatan penulisan

sastra Pesisir juga berkembang di daerah-daerah Surakarta dan Yogyakarta, serta

tempat lain di sekitarnya seperti Banyumas, Kedu, Madiun dan Kediri (Pigeaud

1967:6-7)

Khazanah sastra Pesisir tidak kalah melimpahnya dibanding khazanah sastra

Jawa Kuno. Khazanah tersebut meliputi karya-karya yang ditulis dalam bahasa Jawa

Madya, Madura dan Jawa Baru, dan dapat dikelompokkan menurut jenis

dan coraknya sebagaimana pengelompokan dalam sastra Melayu Islam, seperti

berikut.

(1) Kisah-kisah berkenaan dengan Nabi Muhammad s.a.w;

(2) Kisah para Nabi, di Jawa disebut Serat Anbiya. Dari sumber ini muncul kisah-

kisah lepas seperti kisah Nabi Musa, Kisah Yusuf dan Zuleikha, Kisah Nabi Idris,

Nuh, Ibrahim, Ismail, Sulaiman, Yunus, Isa dan lain-lain;

(3) Kisah Sahabat-sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib;

Similer Documents